Harga Minyak Nilam Tembus Rp580 Ribu per Kg

Infoperkebunan.com, JAKARTA — Harga komoditas perkebunan di sejumlah daerah menunjukkan variasi yang lebar pada periode Agustus–Oktober 2026. Minyak nilam tercatat sebagai komoditas dengan harga tertinggi dalam data yang dihimpun, mencapai Rp580.000 per kilogram. Sementara itu, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit berkisar Rp2.450–Rp3.910 per kilogram.
Perbedaan harga tersebut mencerminkan beragamnya nilai ekonomi komoditas perkebunan yang dipengaruhi jenis produk, kualitas, lokasi, serta kondisi pasar. Informasi harga menjadi salah satu acuan bagi petani dalam memperkirakan pendapatan dan menentukan strategi penjualan hasil kebun.
Pada komoditas kelapa sawit, harga TBS di Sumatera Selatan tercatat Rp3.910 per kilogram, sedangkan di Sulawesi Tenggara sebesar Rp2.450 per kilogram.
Untuk karet, harga karet standar di Jambi mencapai Rp16.000 per kilogram. Adapun bahan olah karet (Bokar) di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, tercatat Rp15.295 per kilogram. Sementara itu, Bokar dengan kadar karet kering (KKK) 100 persen di Jambi mencapai Rp24.500 per kilogram.
Di sektor kopi, harga kopi robusta di Subang tercatat Rp87.000 per kilogram, sedangkan kopi spesial di wilayah yang sama mencapai Rp125.000 per kilogram. Kopi arabika berasan di Kulon Progo dijual Rp130.000 per kilogram.
Harga kakao juga bervariasi. Kakao di Kendari tercatat Rp54.500 per kilogram, sementara kakao nonfermentasi di Sulawesi Tenggara mencapai Rp110.000 per kilogram.
Pada kelompok rempah, harga lada putih di Bangka mencapai Rp145.500 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga di Sulawesi Tenggara sebesar Rp105.000 per kilogram. Bunga cengkeh kering di Kulon Progo tercatat Rp130.000 per kilogram, sedangkan di Sulawesi Tenggara sebesar Rp98.000 per kilogram.
Komoditas lainnya meliputi kopra hitam di Sulawesi Tenggara seharga Rp13.500 per kilogram, minyak serai wangi Rp190.000 per kilogram, serta minyak nilam Rp580.000 per kilogram.
Sementara itu, harga tembakau juga menunjukkan variasi berdasarkan jenisnya. Tembakau Boyolali tercatat Rp85.000 per kilogram, Burley Rp74.000 per kilogram, Kasturi Rp90.000 per kilogram, dan Madura Rp54.300 per kilogram.
Petani Perlu Memantau Perkembangan Harga
Perbedaan harga tersebut menegaskan bahwa nilai jual hasil perkebunan tidak hanya ditentukan oleh jenis komoditas, tetapi juga mutu produk dan kondisi pasar di setiap daerah. Penanganan pascapanen, seperti pengeringan dan fermentasi pada komoditas tertentu, turut memengaruhi kualitas dan harga jual.
Karena itu, petani perlu memperbarui informasi harga sebelum melakukan transaksi. Membandingkan penawaran dari beberapa pembeli serta memahami standar mutu dapat membantu petani menentukan waktu penjualan dan memperoleh nilai jual yang lebih baik.
Harga yang tercantum merupakan data dari wilayah dan jenis komoditas tertentu pada periode Agustus–Oktober 2026. Angka tersebut bukan harga nasional yang berlaku seragam dan dapat berubah mengikuti perkembangan pasar.