Sutiyem, dari Kebun Sawit Menuju Pemberdayaan Petani Perempuan

Berawal dari keluarga transmigran dan pengalaman bertani sejak kecil, Sutiyem membuktikan bahwa perempuan mampu memimpin usaha perkebunan, menerapkan praktik sawit berkelanjutan, sekaligus membuka jalan bagi petani perempuan lainnya.
Infoperkebunan.com, LANGKAT — Perjalanan Sutiyem mengajarkan bahwa keberhasilan di sektor perkebunan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau hasil panen, tetapi juga oleh kemauan untuk terus belajar dan berbagi manfaat. Berangkat dari kehidupan sederhana keluarga transmigran, perempuan berusia 52 tahun ini tumbuh menjadi petani kelapa sawit yang tak hanya mengembangkan usaha, tetapi juga mendorong pemberdayaan perempuan di komunitasnya.
Lahir dari keluarga transmigran asal Jawa, Sutiyem telah mengenal dunia pertanian sejak kecil. Keluarganya mula-mula menanam padi, kemudian beralih ke karet. Namun, anjloknya harga karet pada 2008 mendorong Sutiyem dan suaminya mencari alternatif penghidupan. Mereka pun memutuskan beralih ke perkebunan kelapa sawit.
Keputusan itu menjadi awal perjalanan panjang. Dengan pengetahuan tentang sawit yang masih terbatas, Sutiyem belajar dari petani lain dan memperbaiki cara mengelola kebun melalui pengalaman sehari-hari. Ketekunan tersebut membawanya mengelola kebun kelapa sawit seluas lebih dari 300 hektare. Ia juga bergabung dengan Koperasi Jasa Sawit Lepan Jaya (KJSLJ), yang menaungi 250 petani sawit independen.
Bagi Sutiyem, mengembangkan kebun bukan sekadar mengejar produktivitas. Ia menyadari bahwa keberlanjutan usaha juga bergantung pada ketepatan pengelolaan lahan, efisiensi penggunaan pupuk, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pemahamannya semakin berkembang setelah mengikuti program Sawit Terampil dari Sinar Mas Agribusiness and Food. Melalui pelatihan tersebut, ia memperoleh pengetahuan tentang praktik perkebunan berkelanjutan dan pengelolaan kebun yang lebih baik.
“Setelah bergabung dengan program ini, akhirnya saya mengerti apa arti keberlanjutan—tidak hanya untuk lahan, tetapi juga untuk mata pencaharian kami,” ujarnya, dikutip dari laman PT SMART Tbk pada 1 April 2025.
Pengetahuan itu kemudian diterapkan dalam pengelolaan kebun. Pada 2024, KJSLJ berhasil meraih sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yang menunjukkan bahwa koperasi tersebut telah memenuhi standar keberlanjutan yang dipersyaratkan.
Namun, pencapaian pribadi bukan satu-satunya hal yang ingin diraih Sutiyem. Ia memahami bahwa banyak petani menghadapi tantangan serupa, mulai dari keterbatasan pengetahuan hingga sulitnya memperkuat posisi dalam usaha perkebunan. Karena itu, ia aktif mendorong petani perempuan untuk bergabung dengan koperasi, bertukar pengalaman, dan mempelajari praktik pertanian berkelanjutan.
Upaya tersebut ikut membuka ruang partisipasi perempuan. Kini, sebanyak 16 perempuan tercatat aktif menjadi anggota KJSLJ.
“Saya tahu betul betapa sulitnya bertani sendirian,” katanya.
Bagi Sutiyem, koperasi bukan sekadar tempat berhimpun. Lebih dari itu, koperasi menjadi ruang bagi petani untuk saling belajar, memperkuat posisi tawar, dan memperjuangkan kepentingan bersama.
Ia juga aktif menghadiri pertemuan koperasi untuk mengawal transparansi dan keadilan dalam pengalokasian dana, termasuk untuk pembangunan infrastruktur desa seperti jalan. Baginya, keterlibatan petani tidak seharusnya berhenti di kebun, tetapi juga mencakup partisipasi dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Program Sawit Terampil sendiri telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 9.000 petani kelapa sawit. Pengalaman KJSLJ memperlihatkan bagaimana peningkatan kapasitas, kerja sama, dan penerapan praktik berkelanjutan dapat memperkuat usaha petani independen.
Di tengah perjalanan tersebut, Sutiyem juga memikirkan masa depan keluarganya. Ia berharap anak-anaknya dapat meneruskan usaha pertanian dengan cara yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan mampu menopang kehidupan dalam jangka panjang.
“Saya berharap lebih banyak petani perempuan mengambil jalan ini. Kami tidak hanya menanam kelapa sawit. Kami memupuk peluang untuk masa depan,” tuturnya.
Kisah Sutiyem menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun perkebunan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Dari keberanian mengubah arah usaha hingga kemauan berbagi pengetahuan, ia membuktikan bahwa keberhasilan tidak hanya tumbuh dari tanah yang dikelola, tetapi juga dari kesempatan yang dibuka bagi orang lain.