Dari Pasemah, Nusaga Bawa Robusta Sumsel ke Pasar Dunia
Infoperkebunan.com, TANGERANG — Kopi bukan sekadar komoditas perkebunan. Di balik setiap biji yang dipanen petani, tersimpan cerita tentang kekayaan alam, karakter rasa, dan peluang ekonomi yang dapat menjangkau pasar lintas negara.
Potensi itulah yang ingin diangkat Nusaga, usaha rintisan asal Palembang, Sumatera Selatan, melalui kopi robusta dari kawasan Pasemah, khususnya Kota Pagar Alam. Meski baru berusia enam bulan, perusahaan ini mulai memperkenalkan produknya kepada calon pembeli internasional melalui Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.
Di tengah pameran perdagangan yang mempertemukan pelaku usaha dengan pasar global tersebut, Nusaga berupaya membuka jalan bagi kopi lokal Sumatera Selatan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Direktur Nusaga, Muhammad Irfan Sultami, mengatakan, usaha tersebut berawal dari percakapan sederhana setelah dirinya dan rekan-rekannya melihat unggahan media sosial mengenai daun ketapang yang memiliki nilai ekonomi di pasar ekspor.
Obrolan itu kemudian berkembang menjadi upaya menelusuri potensi komoditas daerah yang berpeluang dipasarkan lebih luas. Dari sejumlah pilihan yang dipelajari, mereka akhirnya menetapkan kopi robusta Pasemah sebagai produk awal usaha.
“Kami kemudian melihat berbagai potensi komoditas yang tersedia di daerah sekitar, lalu memutuskan memulai usaha dengan fokus pada kopi robusta dari kawasan Pasemah, khususnya Kota Pagar Alam,” kata Irfan, Sabtu (24/10/2026).
Pilihan tersebut bertumpu pada potensi perkebunan kopi Pagar Alam yang memiliki karakteristik geografis dan tradisi budidaya yang panjang. Kebun kopi di kawasan ini berada pada beragam ketinggian, termasuk hingga sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Bagi Nusaga, karakter asal atau origin menjadi bagian penting dalam membangun identitas produk. Perusahaan ini menonjolkan aroma cokelat yang kuat sebagai salah satu ciri robusta yang dipasarkannya. Keunikan tersebut diharapkan menjadi nilai tambah ketika kopi Pasemah diperkenalkan kepada calon pembeli yang memiliki kebutuhan dan preferensi berbeda di setiap negara.
Keragaman kopi Indonesia menjadi peluang
Langkah Nusaga berlangsung di tengah besarnya potensi kopi Indonesia dalam perdagangan global. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang disampaikan dalam bahan informasi TEI 2026, nilai ekspor kopi nasional pada 2025 mencapai 2,51 miliar dollar AS dengan volume 510.759 ton, meningkat 53,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menyampaikan bahwa kekuatan kopi Indonesia terletak pada keragaman daerah asal, kualitas, dan karakter produk yang berbeda-beda.
Keragaman tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha untuk membangun identitas produk berdasarkan asal, mutu, dan cita rasa. Dengan demikian, persaingan tidak hanya bertumpu pada volume, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan karakter yang membedakan satu produk dari produk lainnya.
Dalam TEI 2026, pemerintah menargetkan kelompok komoditas kakao, teh, dan kopi atau Koteka menyumbang hingga 30 persen dari target total transaksi pameran sebesar 17,5 miliar dollar AS. Pemerintah juga mendorong perluasan pasar ke sejumlah kawasan potensial, termasuk Asia Selatan, Afrika, dan Timur Tengah, di samping pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Eropa, dan China.
Bagi Nusaga, perkembangan tersebut menjadi peluang untuk membawa kopi daerah masuk ke dalam rantai perdagangan internasional. Namun, potensi pasar perlu diimbangi kesiapan usaha dalam menjaga kualitas produk, memenuhi permintaan, dan membangun kepercayaan pembeli.
Dari obrolan sederhana di Palembang, Nusaga kini mulai membuka pintu menuju pasar global. Perjalanan robusta Pasemah menuju ekspor perdana memang masih memerlukan proses, tetapi langkah awal ini menunjukkan bagaimana potensi perkebunan daerah dapat dikembangkan menjadi peluang usaha yang lebih luas.
Pada akhirnya, memperkenalkan kopi lokal ke dunia bukan hanya tentang menjual produk, melainkan juga membawa identitas daerah ke pasar internasional.