Teh Gunung Dempo, Merawat Sejarah Meraih Prestasi
Dari perkebunan yang tumbuh sejak era kolonial hingga lima penghargaan nasional pada 2026, teh Gunung Dempo menjadi saksi perjalanan panjang perkebunan dan dedikasi para pekerjanya di Pagar Alam, Sumatera Selatan.
PAGAR ALAM, INFOPERKEBUNAN.COM — Kabut pagi perlahan menyelimuti hamparan kebun teh di lereng Gunung Dempo. Embun masih melekat pada pucuk-pucuk daun, sementara para pemetik mulai menyusuri barisan tanaman yang menghijau di antara perbukitan. Di tempat ini, setiap helai daun bukan sekadar bahan baku minuman, melainkan bagian dari kisah panjang perkebunan yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat Pagar Alam.
Hampir satu abad berlalu sejak perkebunan teh di kawasan ini berkembang pada era kolonial. Waktu membawa banyak perubahan, dari pergantian kekuasaan, kehancuran pabrik akibat konflik bersenjata, hingga kebangkitan kembali industri perkebunan. Kini, teh Gunung Dempo kembali mencuri perhatian melalui prestasi di tingkat nasional, di bawah pengelolaan PTPN I Regional 7.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana warisan sejarah, keterampilan pekerja, dan upaya menjaga mutu dapat bertemu dalam secangkir teh yang membawa nama Pagar Alam.
Dari Bedeng Pekerja ke Perusahaan Negara
Jejak perkebunan teh Gunung Dempo bermula pada 1929, ketika perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda mengembangkan usaha teh di kawasan Pagar Alam. Kondisi alam di lereng gunung, termasuk tanah vulkanik dan iklim dataran tinggi, menjadi modal penting bagi budidaya teh.
Perkebunan yang terus berkembang membutuhkan banyak tenaga kerja. Sebagian pekerja didatangkan dari Pulau Jawa dan ditempatkan di permukiman khusus di sekitar area perkebunan. Rumah-rumah bedeng menjadi bagian dari kehidupan mereka, sekaligus menandai tumbuhnya komunitas pekerja yang kemudian berakar di kawasan tersebut.
Aktivitas perkebunan berlanjut pada masa pendudukan Jepang, 1942–1945. Namun, pergantian kekuasaan membawa perubahan besar bagi kehidupan para pekerja. Tekanan ekonomi dan pengerahan tenaga untuk kepentingan perang membuat kehidupan semakin sulit.
Ujian berikutnya datang pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan. Konflik bersenjata dan situasi keamanan yang tidak menentu turut memengaruhi keberlangsungan perkebunan. Dalam berbagai kisah sejarah setempat, penghancuran fasilitas pabrik menjadi bagian dari upaya mencegah aset perkebunan dimanfaatkan kembali oleh pihak lawan.
Kerusakan itu membuat kegiatan produksi terganggu dan mata pencaharian pekerja ikut terdampak. Namun, perkebunan teh Gunung Dempo tidak berhenti sampai di sana.
Pabrik kemudian dibangun kembali dan kegiatan perkebunan berangsur pulih. Pada 1958, pemerintah Indonesia menasionalisasi berbagai aset perkebunan milik Belanda. Perkebunan teh di Pagar Alam pun masuk dalam pengelolaan perusahaan negara.
Perubahan tersebut menjadi babak baru bagi perkebunan sekaligus para pekerjanya. Dari sistem perusahaan kolonial, pengelolaan beralih ke perusahaan perkebunan milik negara. Perjalanan kelembagaan itu berlanjut melalui berbagai transformasi hingga perkebunan kini berada di bawah PTPN I Regional 7, yang sebelumnya dikenal sebagai PTPN VII.
Warisan perjalanan tersebut tidak hanya tersimpan dalam catatan perusahaan. Kehidupan masyarakat di sekitar kebun, termasuk komunitas pekerja yang tumbuh lintas generasi, menjadi bagian dari identitas perkebunan teh Gunung Dempo.
Lima Penghargaan dari Lereng Dempo
Sejarah panjang itu kini beriringan dengan upaya menjaga kualitas produk. Di tengah persaingan industri teh, mutu menjadi salah satu penentu untuk mempertahankan kepercayaan pasar. Proses budidaya, pemetikan, pengolahan, hingga pengendalian kualitas berperan dalam membentuk karakter teh yang dihasilkan.
Upaya tersebut tercermin dalam capaian PTPN I Regional 7 di ajang National Tea Competition. Pada kompetisi edisi ketiga yang berlangsung di Yogyakarta pada Mei 2025, teh Gunung Dempo meraih dua penghargaan, yakni juara kedua untuk kategori Teh Hijau Panning dan peringkat ketiga untuk kategori Teh Hitam CTC.
Prestasi itu berlanjut pada 4th National Tea Competition yang digelar pada September 2026. Kali ini, produk Teh Hitam CTC dari PTPN I Regional 7 berhasil membawa pulang lima penghargaan.
Pencapaian tersebut memperlihatkan konsistensi upaya menjaga mutu produk perkebunan. Namun, di balik penghargaan yang diterima, terdapat pekerjaan panjang yang berlangsung setiap hari: merawat tanaman, memilih pucuk yang tepat, menjaga proses pengolahan, dan memastikan kualitas hasil produksi.
Bagi perkebunan teh Gunung Dempo, prestasi bukan hanya tentang trofi. Pengakuan di tingkat nasional juga menjadi dorongan untuk terus mengembangkan potensi komoditas teh, memperkuat nilai tambah, dan menjaga keberlanjutan usaha perkebunan.
Menyeduh Kebanggaan Pagar Alam
Dari rumah-rumah bedeng yang dahulu menjadi tempat tinggal para pekerja hingga panggung kompetisi nasional, teh Gunung Dempo menyimpan kisah tentang perubahan dan ketekunan. Generasi pekerja silih berganti, sistem pengelolaan berubah, dan tantangan industri terus berkembang. Namun, kebun teh di lereng Dempo tetap menjadi bagian penting dari lanskap dan kehidupan masyarakat Pagar Alam.
Kini, tantangannya bukan sekadar mempertahankan prestasi, melainkan memastikan warisan perkebunan itu terus memberikan manfaat. Peningkatan kualitas, penguatan daya saing, dan pengembangan produk menjadi bagian dari perjalanan yang masih berlangsung.
Di lereng Gunung Dempo, sejarah tidak hanya dikenang melalui bangunan lama atau cerita masa lalu. Sejarah itu terus hidup dalam setiap pucuk yang dipetik, setiap proses pengolahan, dan setiap cangkir teh yang membawa nama Pagar Alam.
Dari kebun yang menyimpan jejak hampir seabad, teh Gunung Dempo terus merawat wangi, menjaga mutu, dan menyeduh kebanggaan dari Sumatera Selatan.